Kampung Inggris – Belakangan ini, Jepang menjadi salah satu negara tujuan favorit bagi pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Selain karena kualitas pendidikannya yang tinggi, Jepang juga dikenal dengan budaya disiplin, teknologi maju, serta lingkungan belajar yang kompetitif. Namun, sebelum memutuskan untuk kuliah di sana, ada satu hal penting yang wajib kamu pahami, yaitu Sistem Kuliah di Jepang.
Banyak calon mahasiswa yang mengira bahwa sistem perkuliahan di Jepang tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Padahal, kenyataannya cukup banyak perbedaan, mulai dari cara belajar, hubungan dosen dan mahasiswa, sistem penilaian, hingga budaya akademik sehari-hari. Artikel ini akan membahas secara lengkap perbedaan Sistem Kuliah di Jepang dan Indonesia, agar kamu punya gambaran yang jelas dan bisa mempersiapkan diri dengan lebih matang.
Gambaran Umum Sistem Kuliah di Jepang dan Indonesia
Secara umum, baik Jepang maupun Indonesia sama-sama memiliki jenjang pendidikan tinggi berupa sarjana (S1), magister (S2), dan doktor (S3). Namun, di balik kesamaan tersebut, Sistem Kuliah di Jepang memiliki karakter yang cukup unik dibandingkan dengan sistem perkuliahan di Indonesia.
Di Indonesia, sistem kuliah cenderung lebih terstruktur dengan jadwal yang padat, kehadiran yang ketat, dan dosen yang berperan besar dalam mengarahkan jalannya pembelajaran. Sementara itu, di Jepang, mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri, bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri, dan aktif mencari ilmu di luar kelas.
Perbedaan Cara Belajar di Kelas
Salah satu perbedaan paling terasa antara Sistem Kuliah di Jepang dan Indonesia terletak pada metode pembelajaran di kelas. Di Indonesia, perkuliahan sering kali masih didominasi oleh metode ceramah. Dosen menjelaskan materi, mahasiswa mencatat, lalu diakhiri dengan tugas atau ujian.
Di Jepang, meskipun metode ceramah tetap ada, mahasiswa lebih didorong untuk aktif berdiskusi, terutama di kelas-kelas lanjutan. Banyak dosen mengharapkan mahasiswa sudah membaca materi sebelum masuk kelas, sehingga waktu perkuliahan digunakan untuk diskusi, analisis, dan pendalaman topik.
Jika mahasiswa datang ke kelas tanpa persiapan, mereka akan kesulitan mengikuti alur pembelajaran. Inilah mengapa Sistem Kuliah di Jepang sering dianggap menuntut kemandirian dan kedisiplinan yang tinggi.
Hubungan Dosen dan Mahasiswa
Dalam konteks hubungan akademik, Sistem Kuliah di Jepang cenderung lebih formal dibandingkan Indonesia. Mahasiswa Jepang biasanya sangat menghormati dosen, baik dalam sikap maupun bahasa. Pemanggilan nama dosen pun umumnya menggunakan gelar kehormatan, dan komunikasi dilakukan dengan bahasa yang sopan dan terstruktur.
Di Indonesia, hubungan dosen dan mahasiswa bisa terasa lebih fleksibel, tergantung kampus dan budaya masing-masing. Ada kampus yang hubungannya sangat formal, namun ada juga yang cukup santai dan terbuka.
Meski terkesan formal, dosen di Jepang sebenarnya cukup terbuka untuk diskusi akademik. Mahasiswa bisa menghubungi dosen melalui email atau datang ke jam konsultasi, asalkan mengikuti etika dan aturan yang berlaku.
Sistem Penilaian dan Evaluasi
Perbedaan lain yang cukup signifikan dalam Sistem Kuliah di Jepang adalah sistem penilaian. Di Indonesia, nilai mahasiswa biasanya ditentukan oleh beberapa komponen seperti kehadiran, tugas, UTS, dan UAS. Kehadiran sering kali memiliki bobot yang cukup besar.
Di Jepang, kehadiran memang penting, tetapi penilaian lebih menekankan pada hasil akhir dan kualitas pekerjaan mahasiswa. Ujian akhir, laporan penelitian, dan presentasi sering menjadi penentu utama nilai. Beberapa mata kuliah bahkan hanya memiliki satu atau dua penilaian besar dalam satu semester.
Hal ini membuat mahasiswa harus benar-benar serius mengerjakan tugas dan mempersiapkan ujian, karena kesempatan memperbaiki nilai biasanya sangat terbatas.
Budaya Mandiri dalam Sistem Kuliah di Jepang
Jika dibandingkan dengan Indonesia, Sistem Kuliah di Jepang sangat menekankan kemandirian mahasiswa. Tidak ada dosen yang akan terus-menerus mengingatkan tentang tugas atau ujian. Mahasiswa diharapkan sudah tahu tanggung jawabnya masing-masing.
Di Indonesia, dosen atau pihak kampus sering memberikan pengingat, baik secara langsung maupun melalui sistem akademik. Di Jepang, mahasiswa harus aktif mengecek jadwal, deadline, dan pengumuman kampus sendiri.
Bagi mahasiswa Indonesia yang baru pertama kali kuliah di Jepang, hal ini bisa menjadi tantangan besar. Namun, jika sudah terbiasa, sistem ini justru melatih kedewasaan dan tanggung jawab pribadi.
Kehidupan Kampus dan Organisasi Mahasiswa
Dalam Sistem Kuliah di Jepang, kehidupan kampus tidak hanya soal akademik. Jepang memiliki budaya klub atau circle yang sangat kuat. Hampir setiap mahasiswa tergabung dalam klub, baik itu klub olahraga, seni, musik, maupun kegiatan akademik.
Klub-klub ini sering kali memiliki jadwal latihan atau kegiatan yang cukup padat dan dijalankan dengan disiplin tinggi. Berbeda dengan organisasi mahasiswa di Indonesia yang biasanya lebih fleksibel, klub di Jepang menuntut komitmen waktu dan tanggung jawab yang besar.
Meski begitu, mengikuti klub menjadi salah satu cara terbaik untuk beradaptasi dengan budaya Jepang, memperluas relasi, dan melatih kemampuan kerja sama tim.
Bahasa Pengantar Perkuliahan
Bahasa juga menjadi faktor penting dalam Sistem Kuliah di Jepang. Meskipun semakin banyak universitas yang menawarkan program berbahasa Inggris, sebagian besar perkuliahan di Jepang masih menggunakan bahasa Jepang.
Di Indonesia, tentu saja bahasa pengantar utama adalah bahasa Indonesia, kecuali untuk program internasional. Bagi mahasiswa Indonesia yang ingin kuliah di Jepang, kemampuan bahasa Jepang akan sangat membantu, tidak hanya untuk akademik, tetapi juga kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa yang belum fasih biasanya diwajibkan mengikuti kelas bahasa Jepang terlebih dahulu sebelum masuk perkuliahan utama.
Jadwal Kuliah dan Sistem Semester
Perbedaan berikutnya dalam Sistem Kuliah di Jepang terletak pada kalender akademik. Tahun ajaran di Jepang biasanya dimulai pada bulan April, bukan September atau Agustus seperti di Indonesia. Sistem semester tetap digunakan, tetapi pembagian waktunya berbeda.
Selain itu, jadwal kuliah di Jepang sering kali lebih fleksibel. Mahasiswa bisa memilih mata kuliah sesuai minat dan rencana studinya, selama memenuhi syarat yang ditentukan. Di Indonesia, terutama di tahun-tahun awal, jadwal kuliah biasanya sudah ditentukan oleh kampus.
Tantangan Mahasiswa Indonesia di Jepang
Bagi mahasiswa Indonesia, beradaptasi dengan Sistem Kuliah di Jepang bukanlah hal yang mudah. Tantangan terbesar biasanya datang dari perbedaan budaya belajar, bahasa, dan tuntutan kemandirian.
Namun, tantangan ini juga menjadi peluang besar untuk berkembang. Mahasiswa yang berhasil melewati fase adaptasi biasanya akan menjadi pribadi yang lebih mandiri, disiplin, dan siap menghadapi dunia kerja global.
Penutup
Perbedaan antara Sistem Kuliah di Jepang dan Indonesia cukup signifikan, mulai dari metode pembelajaran, hubungan dosen dan mahasiswa, sistem penilaian, hingga budaya akademik. Jepang menuntut kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang tinggi dari setiap mahasiswanya, sementara Indonesia cenderung lebih terstruktur dan terarah.
Memahami perbedaan ini sejak awal sangat penting, terutama bagi kamu yang berencana melanjutkan studi ke Jepang. Dengan persiapan mental, akademik, dan bahasa yang matang, pengalaman kuliah di Jepang bisa menjadi salah satu fase paling berharga dalam hidupmu.
Kalau menurut kalian artikel kami sangat bagus dan bermanfaat, jangan lupa share artikel kami di media sosial kalian. Dan kabarin juga teman kalian yang ingin belajar bahasa Inggris. Jangan lupa untuk follow akun instagram, akun tiktok, dan akun twitter kami ya teman-teman. Kalau kamu tertarik untuk belajar bahasa Inggris, kamu bisa kunjungi website kami disini.
Ditulis oleh : Rizqi & Fadhillah












